PENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS BAGI SISWA SD NEGERI 61 LUBUKLINGGAU: FUNENGLISH LEARNING THROUGH STORYTELLING
DOI:
https://doi.org/10.55526/bnl.v2i3.418Kata Kunci:
Kemampuan Bahasa Inggris, Fun English Learning, StorytellingAbstrak
Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa di SD Negeri 61 Lubuklinggau. Halyang mendasari kegiatan ini terlaksana adalah usia emas sasaran untuk mempelajari bahasa.Diusia emas, siswa tingkat sekolah dasar dapat lebih optimal mempelajari bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan. Siswa kelas II, III, dan IV merupakan sasaran untuk kegiatan ini, dimana siswa berusia 7 sampai 10 tahun. Karakteristik siswa direntang usia tersebut dikategorikan pada masa anak sudah matang bersekolah dan sudah lebih siap menerima pembelajaran bahasa.Selanjutnya, perkembangan digitalisasi yang dengan cepat masuk disemua elemen masyarakat termasuk pendidikan. Yang mana, semuanya menggunakan bahasa Inggris. Tuntutan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris juga menjadi alasan terpenting terhadap pelaksanaan kegiatan PKM di SD Negeri 61 Lubuklinggau. Metode pembelajaran storytelling digunakan sebagai upaya agar siswa mampu menyampaikan perasaan, pikiran atau isi pesan dari sebuah cerita secara lisan. Melalui kegiatan storytelling, siswa dapat meningkatkan kecerdasan linguistik, emosional, komunikasi, dan memperkaya kreativitas dalam berimajinasi. Hasil dari pelaksanaan PKM adalah siswa mendapatkan fasilitas belajar bahasa Inggris yang berkelanjutan selama empat hari melalui kegiatan storytelling. Peningkatan progres kemampuan siswa sangat baik, siswa memiliki rasa percaya diri untuk tampil sebagai storyteller, dan siswa juga bisa menjadi pendengar yang kritis dalam mengambil pesan dari cerita yang disampaikan.
Referensi
Banister, F., & Ryan, C. (2001). Developing science concepts through storytelling. School Science Review, 83(302), pp.75 – 83
Barrett, H. (2006). Researching and Evaluating Digital Storytelling as a Deep Learning Tool in (C. M. Crawford, R. Carlsen, K. McFerrin, J. Price, R. Weber, & D. A. Willis, Eds.)Educational Review, 1(1), 1–8. Retrieved from http://www.helenbarrett.com/portfolios/SITEStorytelling2006.pdf (Last accessed 26th Oct 2022)
Baumeister, R. F., & Newman, L. S. (1994). How Stories Make Sense of Personal Experiences: Motives that Shape Autobiographical Narratives. Personality and Social Psychology Bulletin, 20(6), 676–690. Retrieved from http://psp.sagepub.com/content/20/6/676 (last accessed 24thOct 2022)
Boje, D. M. (2008). Storytelling organizations. Sage Publications Ltd, London. Retrieved from http://www.dawsonera.com/depp/reader/protected/external/AbstractView/S9780857026729 (Last accessed 26th Oct 2022)
Boje, D. M. (ed.) (2011). Storytelling and the Future of Organizations: An Ante-narrative Handbook, Routledge, Oxford
Bruner, J. (1986). Actual Minds, Possible Worlds. Harvard University Press, London.
Bruner, J. (1990). Making Stories: Law, Literature, and Life. Harvard University Press, London.
Bruner, J. (2004). Life as Narrative, Social Research 71(3), 691–711.
Daryanto. (2009). Panduan Proses Pembelajaran Kratif dan Inovatif. Jakarta: Publisher.
Holik, Abdul. (2013). Peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sudut Baca Soreang dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat di Kabupaten Bandung. Jurnal Pengabdian Masyarakat UNINUS. Vol. 3 No. I Juli 2013 (50-56).


